\documentclass{template-jurnal} %Bagian ini diedit oleh editor Jurnal Matematika UNAND
\hyphenation{di-tulis-kan di-terang-kan}
%Perhatikan aturan penulisan dan ukuran huruf yang digunakan
\begin{document}

\markboth{Rizka Pradita Prasetya, Dian Islamiaty Puteri, Putri Monika, Atje Setiawan Abdullah, Budi Nurani Ruchjana} %Jika lebih dari dua penulis, tuliskan sebagai Nama Penulis Pertama dkk.
{Mengukur Keragaman Warisan Budaya Takbenda Indonesia dengan Indeks Gini}

%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%% Publisher's Area please ignore %%%%%%%%%%%%%%%
%
\catchline{}{}{}{}{}
%
%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%%

\title{MENGUKUR KERAGAMAN WARSAN BUDAYA TAKBENDA INDONESIA DENGAN INDEKS GINI}

\author{RIZKA PRADITA PRASETYA${}^{1,2}$, DIAN ISLAMIATY PUTERI${}^{1}$, PUTRI MONIKA${}^{3}$, ATJE SETIAWAN ABDULLAH${}^{4}$, BUDI NURANI RUCHJANA${}^{5*}$})}

\address{$^{1}$Magister Statistika Terapan, FMIPA, Universitas Padjadjaran,\\
$^{2}$Badan Pusat Statistik, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,\\
$^{3}$Magister Matematika, FMIPA, Universitas Padjadjaran,\\
$^{4}$Departemen Ilmu Komputer, FMIPA, Universitas Padjadjaran,\\
$^{5}$Departemen Matematika, FMIPA, Universitas Padjadjaran.\\
email : \Corresponding Author E-mail{budi.nurani@unpad.ac.id}}

\maketitle
\setcounter{page}{1} %bagian ini diedit oleh editor Jurnal Matematika UNAND

\begin{abstract}
\begin{center}
Diterima ..... \quad Direvisi ..... \quad Dipublikasikan ..... %tanggal-tanggal tersebut \textbf{dikosongkan} saja
\end{center}

\bigskip

\textbf{Indeks gini merupakan alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi yang didasarkan pada kurva Lorenz. Indeks Gini berkisar dari nol hingga satu, di mana nol mewakili kesetaraan sempurna dan satu mewakili keberagaman yang hampir sempurna. Dalam penelitian ini, indeks gini digunakan untuk melihat kemerataan distribusi keragaman warisan budaya takbenda Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa indeks gini Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan lebih besar dibandingkan Warisan Budaya Takbenda yang tercatat.}. %Dalam bahasa Indonesia
Abstrak tidak melebihi 250 kata. Tuliskan intisari dari makalah anda.

\bigskip

\textbf{Abstract}. % Dalam bahasa Inggris
\textit{Abstracts do not exceed 250 words. Write the summary of your paper.}

\end{abstract}

\keywords{Tuliskan maksimal tiga buah kata kunci, tuliskan sesuai urutan abjad}

\section{Pendahuluan}
Puluhan etnis yang menyebar di 34 provinsi di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai bangsa serta negeri yang amat kaya akan budaya, baik benda maupun bukan benda $[1]$. Warisan budaya benda atau \textit{tangible cultural heritage }bisa diindera dengan mata dan tangan, seperti artefak atau situs. Sedangkan, warisan budaya takbenda atau~\textit{intangible cultural heritage}~bersifat tak dapat dipegang dan sifatnya dapat berlalu dan hilang seiring perkembangan zaman, seperti bahasa, musik, tari, upacara, serta berbagai perilaku terstruktur lain $[2]$. Warisan budaya takbenda merupakan bagian dari kebudayaan nasional yang penting untuk mendukung terwujudnya integrasi nasional $[3]$. 

Pelestarian warisan budaya takbenda merupakan sebuah jaminan untuk kelanjutan kreativitas $[4]$. Pelestarian kebudayaan saat ini sering dilupakan dan diabaikan, sehingga menimbulkan dampak buruk bagi Indonesia seperti adanya pengklaiman kebudayaan Indonesia yang dilakukan oleh negara lain. Pengklaiman akan merugikan Indonesia baik dari segi ekonomi, pariwisata, sosial, maupun kebudayaan $[5]$. Untuk melindungi kebudayaan tersebut, salah satu langkah yang dilakukan Indonesia adalah dengan pengusulan ke UNESCO untuk mendapat pengakuan sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia $[6]$. Setiap negara membuat inventaris nasional dari warisan budaya takbenda yang ada di wilayahnya $[7]$.

Setiap provinsi yang ada di Indonesia menginventarisir warisan budaya takbenda dalam jumlah yang berbeda dan beraneka ragam disetiap kategorinya. Keanekaragaman budaya daerah tersebut merupakan potensi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra budaya tersendiri pada tiap daerah, serta merupakan bagian penting bagi pembentukan citra dan identitas budaya suatu daerah $[8]$. Dalam melihat keberagaman warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia tersebut, dapat melalui perhitungan Indeks Gini. Indeks Gini merupakan alat mengukur derajat ketidakmerataan distribusi yang didasarkan pada kurva Lorenz $[9]$. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat karakteristik warisan budaya takbenda (WBTb) di Indonesia dan mengetahui apakah keberagaman warisan budaya takbenda (WBTb) di Indonesia tersebar merata. Diharapkan hasil analisis yang telah dilakukan ini dapat bermanfaat bagi pemerintah untuk perencanaan maupun evaluasi berkelanjutan dalam bidang kebudayaan Indonesia. 

\section{Landasan Teori}
\begin{enumerate}
	\item \textbf{ Indeks Gini}
\end{enumerate}
\begin{enumerate}
\item \textbf{ Indeks Gini}
\end{enumerate}

\begin{enumerate}
	\item \textbf{ Indeks Gini}
\end{enumerate}
Indeks gini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1912 oleh ahli statistik dan sosiolog Italia Corrado Gini. Indeks  Gini  adalah salah satu ukuran ketimpangan  yang  paling  sering  digunakan $[10]$. Agregat Indeks Gini adalah ukuran statistik pertebaran paling menonjol digunakan sebagai ukuran ketidaksetaraan distribusi atau ketidakmerataan distribusi $[11]$. Menurut Wodon dan Yitzhaki dalam Rambey $[12]$, berikut kelebihan Indeks Gini, yaitu :

\begin{enumerate}
\item  Sebagai ukuran statistik untuk variabilitas, Indeks Gini bisa digunakan untuk menghitung pendapatan negatif, ini adalah salah satu sifat yang tidak dimiliki oleh sebagian ukuran ketimpangan. 

\item  Indeks Gini juga bisa digambarkan secara geometris sehingga lebih mudah untuk diamati dan dianalisis. 

\item  Indeks Gini memiliki dasar teori yang kuat. Sebagai indeks normatif, Indeks Gini bisa merepresentasikan teori kemiskinan relatif. Indeks Gini juga bisa diturunkan sebagai ukuran ketimpangan berdasarkan aksioma-aksioma keadilan sosial
\end{enumerate}

Sampai saat ini, para peneliti masih menggunakan nilai Indeks Gini untuk mempelajari ketimpangan pendapatan dalam banyak penelitian $[13]$ $[14]$ $[15]$. Indeks Gini dapat digunakan lebih luas, selain digunakan untuk analisis ketimpangan pendapatan. Dalam penelitian lainnya, Indeks Gini digunakan menggambarkan distribusi heterogenitas spasial terutama untuk minyak seperti permeabilitas, porositas, ketebalan, saturasi air minyak sumur di lapisan vulkanik $[16]$. Indeks Gini juga dapat digunakan dalam mengukur ketimpangan pendidikan $[17]$ $[18]$. 

Indeks Gini dapat dijelaskan dengan menggunakan kurva Lorenz. Indeks gini mengukur seberapa jauh kurva lorenz menyimpang dari garis diagonal/kesetaraan sempurna. Semakin dekat kurva Lorenz dengan garis diagonal maka indeks gini semakin kecil atau distribusi semakin merata. Indeks Gini mempunyai selang nilai antara 0 sampai dengan 1. Nilai 0 menunjukkan pemerataan yang sempurna, semakin mendekati angka nol bermakna bahwa tingkat pemerataan dari suatu variabel cukup baik. Sedangkan nilai 1 menunjukkan ketimpangan yang paling tinggi.

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.64in, height=2.53in]{image1.jpg}}
	\caption{Gambar 1.} \label{Kurva Lorenz}
\end{figure}

Rumus yang digunakan untuk menghitung nilai Indeks Gini adalah $[19]:
\begin{equation} \label{GrindEQ__2_1_} 
G=\frac{concentration\ area}{maximum\ concentration\ area}=\frac{ORP}{OPQ} 
\end{equation} 
G adalah Indeks Gini, dimana ORP menunjukkan daerah yang tertutup antara garis Equality dan kurva Lorenz, seperti yang ditunjukkan pada gambar 1, sedangkan OPQ  menunjukkan luas total segitiga.

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.64in, height=2.53in]{image2.jpg}}
	\caption{Gambar 2.} \label{Kurva Lorenz}
\end{figure}

\noindent Z merupakan area di bawah kurva Lorenz. Untuk menghitung konsentrasi area dengan formula sebagai berikut:
\begin{equation} \label{GrindEQ__2_2_} 
Concentration\ area=\frac{1}{2}-Z 
\end{equation} 
\begin{equation} \label{GrindEQ__2_3_} 
Concentration\ area=\frac{1}{2}-\frac{1}{2}\sum_i{[(q_i-q_{i-1})(p_i-p_{i-1})]} 
\end{equation} 
Berdasarkan persamaan 2.1 maka diperoleh
\begin{equation} \label{GrindEQ__2_4_} 
G=\frac{\frac{1}{2}-\frac{1}{2}\sum_i{[(q_i-q_{i-1})(p_i-p_{i-1})]}}{\frac{1}{2}} 
\end{equation} 
\begin{equation} \label{GrindEQ__2_5_} 
G=1-2Z 
\end{equation} 




\begin{enumerate}
\item \begin{enumerate}
	\item  \textbf{ Warisan Budaya Takbenda (WBTb)}
\end{enumerate}
\end{enumerate}

\textit{UNESCO~Convention For The Safeguarding Of The Intangible Cultural Heritage~2003} mendefinisikan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sebagai tradisi lisan, budaya ekspresif, praktik sosial, manifestasi estetika sesaat, dan bentuk pengetahuan yang dibawa dan ditransmisikan dalam komunitas budaya. Hal ini mencakup, mulai dari cerita dan dongeng hingga musik dan perayaan, keahlian pengobatan tradisional, seni kuliner, dan arsitektur vernacular $[20]$. Setelah Indonesia meratifkasi~\textit{Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Herritage}~tahun 2003, yang disahkan melalui Peraturan Presiden Nomor 78 tahun 2007 tentang Pengesahan \textit{Convention for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage}, maka Indonesia wajib melakukan pencatatan karya budaya $[21]$. Pencatatan dan penetapan Warisan Budaya Takbenda diusulkan oleh pemerintah daerah bekerja sama dengan komunitas adat sebagai pihak yang bertanggung jawab melakukan pelestarian karya budaya. Mengacu pada konvesi UNESCO Tahun 2003, Warisan Budaya Takbenda dibagi atas lima kategori, sebagai berikut $[22]$:

\begin{enumerate}
\item  Tradisi Lisan dan Ekspresi, yang didalamnya memuat karya budaya antara lain bahasa, naskah kuno, permainan dan olah tubuh tradisional, pantun, cerita rakyat, mantra, doa, serta nyanyian rakyat.

\item  Seni Pertunjukan, yang didalamnya terdapat karya budaya seperti seni tari, seni suara, seni musik, dan seni teater.

\item  Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan, yang memuat karya budaya antara lain upacara tradisional, hukum adat, sistem organisasi sosial, sistem kekerabatan tradisional, sistem ekonomi tradisional, serta festival tradisional. 

\item  Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta, antara lain mencakup karya budaya seperti pengetahuan mengenai alam, kosmologi, kearifan lokal, dan pengobatan tradisional.

\item  Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional, mencakup karya budaya seperti teknologi tradisional, arsitektur tradisional, pakaian tradisional, aksesoris tradisional, kerajinan tradisional, kuliner tradisional, media transportasi, serta senjata tradisional.
\end{enumerate}

\noindent 

\begin{enumerate}
\item  \textbf{Metodologi}

\begin{enumerate}
	\item \textbf{ Jenis Sumber Data}
\end{enumerate}
\end{enumerate}

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang telah dicatat sejak 2010 hingga 2021 dan Data Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang telah ditetapkan oleh sejak 2013 hingga 2021. Data bersumber dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Data tersebut disusun berdasarkan provinsi dan kategorinya.

\section{Metodologi}
\begin{enumerate}
	\item \textbf{ Jenis Sumber Data}
\end{enumerate}
\end{enumerate}

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang telah dicatat sejak 2010 hingga 2021 dan Data Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia yang telah ditetapkan oleh sejak 2013 hingga 2021. Data bersumber dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Data tersebut disusun berdasarkan provinsi dan kategorinya.

\section{Hasil dan Pembahasan}
\begin{enumerate}
	\item \textbf{ Analisis Deskriptif}
\end{enumerate}
\end{enumerate}

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.23in, height=1.89in]{image3.jpg}}
	\caption{Gambar 3.} \label{Warisan Budaya Takbenda menurut Kategori di Indonesia}
\end{figure}

\noindent WBTb di Indonesia didominasi oleh kategori Seni Pertunjukan dan Adat Istiadat Masyarakat Ritus dan Perayaan-perayaan yang masing-masing menyumbang 29,78 persen dan 29,05 persen dari total WBTb yang telah ditetapkan. Kategori Pengetahuan Kebiasaan Perilaku mengenai alam semesta merupakan kategori WBTb yang paling sedikit yaitu menyumbang 4,50 persen dari total WBTb yang telah ditetapkan.

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.67in, height=2.39in]{image4.jpg}}
	\caption{Gambar 4.} \label{Warisan Budaya Takbenda menurut Kategori dan Pulau Besar di Indonesia}
\end{figure}

\noindent WBTb di Indonesia kategori Adat Istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan dan Seni Pertunjukan paling banyak terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan kategori Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional, Pengetahuan Kebiasaan Perilaku mengenai alam semesta serta Tradisi dan Ekspresi Lisan paling banyak terdapat di Pulau Sumatera. Tradisi dan Ekspresi Lisan seperti pantun, syair, tuturan, gurindam dan lain-lain umumnya digunakan masyarakat melayu di Sumatera sebagai alat berkomunikasi, untuk itu, tak ayal jika kategori  Tradisi dan Ekspresi Lisan mendominasi di Pulau Sumatera. Asmah [23] menjelaskan bahwa pantun Melayu adalah sebuah mikrokosmos dari sebuah  bentuk  pola  komunikasi  yang  khas  dari  bangsa  Melayu

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.23in, height=1.88in, trim=0.00in 0.00in 0.00in 0.26in]{image5.jpg}}
	\caption{Gambar 5.} \label{Warisan Budaya Takbenda yang Telah Ditetapkan di Indonesia}
\end{figure}

\noindent Berdasarkan gambar diatas, dari sejumlah warisan budaya takbenda (WBTb) yang telah ditetapkan tersebut, lima Provinsi yang merupakan penyumbang warisan budaya takbenda (WBTb) terbanyak adalah Provinsi DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur. Adapun lima provinsi dengan jumlah WBTb paling sedikit adalah Provinsi Kalimantan Tengah, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, dan Sulawesi Barat.

\noindent 

\begin{enumerate}
\item \begin{enumerate}
	\item  \textbf{ Indeks Gini dan Kurva Lorenz}
\end{enumerate}
\end{enumerate}

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=4.67in, height=4.00in, trim=0.00in 0.39in 0.00in 0.20in]{image6.jpg}}
	\caption{Gambar 6.} \label{Kurva Lorenz Warisan Budaya Takbenda menurut Kategori di Indonesia}
\end{figure}

Berdasarkan gambar diatas Indeks Gini tertinggi adalah Kategori Tradisi Ekspresi Lisan dengan nilai Indeks Gini sebesar 0,6 kemudian diikuti oleh Kategori Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta dengan nilai Indeks Gini sebesar 0,46 dan Kategori Seni Pertunjukan dengan nilai Indeks Gini sebesar 0,44. Apabila Indeks Gini bernilai 0 berarti warisan budaya takbenda sama antar kategori, sedangkan apabila bernilai 1 berarti warisan budaya takbenda antar kategori sangat beragam atau distribusi sangat tidak merata. Hal ini menunjukan bahwa ketiga Kategori warisan budaya takbenda yang disebutkan sebelumnya paling beragam dibandingkan dengan kategori warisan budaya takbenda lainnya.

\noindent \textbf{Tabel 2}. Hasil Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda berdasarkan Kategori

\begin{tabular}{|p{0.8in}|p{0.5in}|p{0.8in}|p{0.8in}|p{0.4in}|p{0.6in}|p{0.4in}|} \hline 
\textbf{Kategori/\newline Indeks Gini} & \textbf{Adat Istiadat } & \textbf{Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional} & \textbf{Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku } & \textbf{Seni pertunjukan} & \textbf{Tradisi dan Ekspresi Lisan} & \textbf{Total} \\ \hline 
\eqref{GrindEQ__1_} & \eqref{GrindEQ__2_} & \eqref{GrindEQ__3_} & \eqref{GrindEQ__4_} & \eqref{GrindEQ__5_} & \eqref{GrindEQ__6_} & \eqref{GrindEQ__7_} \\ \hline 
Indeks Gini WBTb ditetapkan & 0.54 & 0.53 & 0.58 & 0.57 & 0.60 & 0.52 \\ \hline 
Indeks Gini WBTb\newline dicatat & 0.34 & 0.37 & 0.38 & 0.36 & 0.32 & 0.40 \\ \hline 
\end{tabular}

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.77in, height=2.10in, trim=0.00in 0.00in 0.00in 0.41in]{image7.jpg}}
	\caption{Gambar 7.} \label{Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda Telah Ditetapkan menurut Provinsi}
\end{figure}

\noindent Apabila Indeks Gini bernilai 0 berarti warisan budaya takbenda sama dalam suatu daerah, sedangkan apabila bernilai 1 berarti warisan budaya takbenda sangat beragam. Terdapat 9 Provinsi dengan nilai Indeks Gini lebih dari 0,4 yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah dan Banten. Provinsi dengan nilai Indeks Gini tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat sebesar 0,51. Hal ini menunjukan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki keragaman warisan budaya takbenda paling beragam dibandingkan dengan provinsi lainnya. Keberagaman tersebut disebabkan terdapat perbedaan jumlah yang sangat jauh antar kategori WBTb di provinsi tersebut.  Tidak terdapat WBTb yang ditetapkan untuk Kategori Pengetahuan Kebiasaan Perilaku mengenai alam semesta dan Tradisi Ekspresi Lain di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Adapun Provinsi dengan nilai Indeks Gini terendah adalah Provinsi Bangka Belitung, yaitu tercatat sebesar 0,17. Apabila dibandingkan dengan nasional, Indeks Gini Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih lebih rendah dibandingkan Indeks Gini Nasional yang sebesar 0,27. Tingkat keragaman warisan budaya takbenda menurut kategori di Indonesia relatif sama. Hal ini tercermin dari Indeks Gini yang mengukur keragaman distribusi warisan budaya takbenda Indonesia bernilai 0,27.

\begin{figure}[htbp]
	\center{\includegraphics[width=5.82in, height=1.98in, trim=0.00in 0.00in 0.00in 0.28in]{image8.jpg}}
	\caption{Gambar 8.} \label{Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda Telah Dicatat menurut Provinsi}
\end{figure}

\noindent Berdasarkan gambar diatas terdapat satu Provinsi dengan nilai Indeks Gini lebih dari 0,4 yaitu Provinsi Sulawesi Tenggara. Hal ini menunjukan bahwa Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki keragaman warisan budaya takbenda yang tercatat paling beragam dibandingkan dengan provinsi lainnya. Keberagaman tersebut disebabkan terdapat perbedaan jumlah yang sangat jauh antar kategori WBTb di provinsi tersebut.

\noindent \includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image9}\includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image10}

\noindent \includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image11}\includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image12} \includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image13} \includegraphics*[width=2.71in, height=2.71in]{image14}

\noindent \textbf{Gambar 9}. Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda Telah Dicatat dan Ditetapkan menurut Kategori

\noindent 

\noindent Berdasarkan gambar di atas Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda yang tercatat lebih kecil daripada Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan untuk semua kategori. 

\noindent 

\section{Kesimpulan}
\item \textbf{ }Untuk melihat distribusi tingkat keragaman warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia dapat menggunakan nilai indeks gini.

\item  WBTb di Indonesia didominasi oleh kategori ``Seni Pertunjukan'' 

\item  WBTb di Indonesia kategori Adat Istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan dan Seni Pertunjukan paling banyak terdapat di Pulau Jawa. Sedangkan kategori Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional, Pengetahuan Kebiasaan Perilaku mengenai alam semesta serta Tradisi dan Ekspresi Lisan paling banyak terdapat di Pulau Sumatera.

\item  Lima Provinsi yang merupakan penyumbang warisan budaya takbenda (WBTB) terbanyak ada di Pulau Jawa dan Bali yaitu Provinsi DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur. 

\item  Lima provinsi dengan jumlah WBTb paling sedikit adalah Provinsi Kalimantan Tengah, Papua Barat, Nusa Tenggara Barat, Bengkulu, dan Sulawesi Barat.

\item  Indeks Gini tertinggi adalah Kategori Tradisi Ekspresi Lisan Hal ini menunjukan kategori tersebut paling beragam/terdistribusi tidak merata dibandingkan dengan kategori warisan budaya takbenda lainnya

\item  Hasil analisis menunjukkan bahwa Provinsi dengan nilai Indeks Gini tertinggi adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat . Hal ini menunjukan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki warisan budaya takbenda paling beragam/terdistribusi tidak merata dibandingkan dengan provinsi lainnya.

\item  Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda yang tercatat lebih kecil daripada Indeks Gini Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan untuk semua kategori.

\item  \textbf{Saran}

\item \textbf{ }Penetapan Warisan Budaya Takbenda lebih difokuskan selain di Pulau Jawa dan Bali

\item  Nilai indeks gini Warisan Budaya Takbenda yang telah ditetapkan lebih besar dibandingkan dengan Warisan Budaya Takbenda yang dicatat agar terjadi pemerataan Warisan Budaya Takbenda disetiap Provinsi dan tiap kategori perlu dilakukan percepatan penetapan Warisan Budaya Takbenda yang telah tercatat.\textbf{}

\section{Ucapan Terima kasih}
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Padjadjaran yang telah memberikan dukungan dalam diseminasi hasil penelitian dosen dan mahasiswa melalui Hibah Internal Academic Leadership Grant (ALG) dengan nomor 2023/UN6.3.1/PT.00/2022 dan reviewer yang telah memberikan masukan untuk perbaikan paper ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih atas diskusi mengenai analisis media sosial melalui proyek RISE\_SMA yang didanai oleh Uni Eropa tahun 2019 -2024. 

\begin{DAFTAR PUSTAKA}{0}
\bibitem {1} S. A. Sudarsono, 2021, Diplomasi Indonesia Terhadap Unesco Dalam Menjadikan Pencak Silat Sebagai Warisan Budaya Takbenda, \textit{JOM FISIP,} \textbf{8}\eqref{GrindEQ__2_}: 1--14.
\bibitem {2} Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan, ``Warisan Budaya Tak Benda,'' \textit{Gerakan Literasi Nasional}, 2018. https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/formulir-warisan-budaya-tak-benda/
\bibitem {3} S. B. Aji, 2016 , \textit{Perlindungan Hukum Warisan Budaya Tak Benda (Studi Kasus I LA GALIGO)}, di Universitas Gadjah Mada, tidak diterbitkan. 
\bibitem {4} L. Diana, 2020, Perlindungan Hukum Warisan Budaya Tak Benda Di Kabupaten Kampar Provinsi Riau, dalam \textit{Pembangunan Hukum Menuju Era Digital Society}, \textbf{2}: 1284--1299.
\bibitem {5} E. J. Purba, A. K. Putra, dan B. Ardianto, 2020, Perlindungan Hukum Warisan Budaya Tak Beda Berdasarkan Convention for The Safeguarding Of The Intangible Cultural Heritage 2003 dan Penerapannya di Indonesia, \textit{Uti Possidetis Journal International Law}, \textbf{1}\eqref{GrindEQ__3_}: 90--117.
\bibitem {6} D. K. Marjanto dan A. M. Kartawinata, 2016, Implementasi Kebijakan Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, \textit{Jurnal Kebuayaan}, \textbf{11}\eqref{GrindEQ__1_}: 21--34.
\bibitem {7} E. Dewayani dan Wasino, 2020, Pemodelan Data Dalam Pelestarian Warisan Budaya Takbenda, \textit{Journal Comput. Sci. Inf. Syst.}, \textbf{4}\eqref{GrindEQ__2_}: 36--143.
\bibitem {8} R. Njatrijani, 2018, Kearifan Lokal Dalam Perspektif Budaya Kota Semarang, \textit{Gema Keadilan}, \textbf{5}\eqref{GrindEQ__1_}: 16--31.
\bibitem {9} R. D. A`laa dan S. Sutikno, 2019, Pemodelan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Gini Rasio Pembangunan di Jawa Timur dengan Regresi Spasial, \textit{Jurnal Sains Dan Seni ITS}, \textbf{7}\eqref{GrindEQ__2_}: 265--272.
\bibitem {10} A. M. Damanik, 2018, Faktor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jambi, \textbf{7}\eqref{GrindEQ__1_}: 15--25.
\bibitem {11} Bantika, G. H. M. Suzana, dan B. O. L. Kapantow, 2015, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketimpangan Distribusi Pendapatan Di Sulawesi Utara, \textbf{6}\eqref{GrindEQ__17_}: 1--33.
\bibitem {12} M. J. Rambey, 2018, Analisis Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Ketimpangan Pendapatan Di Indonesia, \textit{J. Educ. Dev.}, \textbf{4}\eqref{GrindEQ__1_}: 32--36.
\bibitem {13} S. E. Suciaty dan S. Nur, 2018, Analisa Indeks Gini Di Kota Malang, \textit{J. PANGRIPTA}, \textbf{1}\eqref{GrindEQ__2_}: 122--133.
\bibitem {14} H. Heryanah, 2017, Kesenjangan Pendapatan Di Indonesia: Berdasarkan Susenas 2008, 2011 Dan 2013, \textit{J. BPPK Badan Pendidik. Dan Pelatih. Keuang.}, \textbf{10}\eqref{GrindEQ__2_}: 43--58.
\bibitem {15} N. Hanum, 2018, Analisis Kemiskinan dan Ketimpangan Distribusi Pendapatan di Kota Langsa (Studi Kasus Gampong Matang Seulimeng), \textit{Jurnal SAMUDRA Ekonomi}, \textbf{2}\eqref{GrindEQ__2_}: 157--170.
\bibitem {16} A. S. Abdullah \textit{dkk.}, 2018, Heterogeneity of Parameters Oil Well Using Gini Index, \textit{Southeast Asian Bull. Math.}, \textbf{42}\eqref{GrindEQ__5_}: 613--618.
\bibitem {17} K. Digdowiseiso, 2010, Measuring gini coefficient of education: the Indonesian cases, \textit{Munich Pers. RePEc Arch. Pap. No 19865}.
\bibitem {18} N. S. Nisa dan P. L. Samputra, 2020, Analisis Ketimpangan Pendidikan Di Provinsi Papua Barat, \textit{J. Perspekt. Ekon. DARUSSALAM}, \textbf{6}\eqref{GrindEQ__2_}: 115--135.
\bibitem {19} L. G. Bellu, 2006, Inequality Analysis : The Gini Index, \textit{EASYPol Online Resour. Mater. Policy Mak}.
\bibitem {20} W. Pratama, E. Dewayani, dan Z. Rusdi, 2020, Sistem Informasi Warisan Budaya Takbenda Studi Kasus: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, \textit{JIKSI J. Ilmu Komput. Dan Sist. Inf.}, \textbf{8}: 177--185.
\bibitem {21} B. Abubakar, S. Ismail, S. I. Shadiqin, dan F. Santa, 2022, Dari Warisan Budaya Tak Benda Menuju Warisan Budaya Nasional (Studi Kebijakan Pemerintah Di Aceh), \textit{Proc. Int. Conf. Islam. Stud.}, \textbf{1}\eqref{GrindEQ__1_}: 479--487.
\bibitem {22} C. D. Wahyuningsih, 2020, Kebijakan Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (Intangible Culture Heritage) Masyarakat Kota Semarang, \textit{Mimb. Adm.}, \textbf{17}\eqref{GrindEQ__1_}: 57--76.

\bibitem {23} J. W. Sew, 2007, Symbolism In Malay Evidence in Genre and Lexion, \textit{Journal Departement Malay Stud. Natl. Univ. Singapore}.

\end{DAFTAR PUSTAKA}
\end{document}
